Selamat datang di website Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang

 

Tari Soreng Dusun Garon-Grintingan

Administrator01 17 Agustus 2017 14:50:54 WIB

Tari Soreng bukanlah sesuatu yang baru di Dusun Grintingan. Akan tetapi, dapat dikatakan bahwa perkembangan kesenian tersebut baru tampak geliatnya di dua tahun terakhir. Sebelumnya, gerakan Soreng kurang mengenal variasi. Variasi pada gerakan Tari Soreng diadakan supaya penonton tidak bosan. Oleh karena itu, keadaan mulai diperbaiki; gerakan-gerakan baru diciptakan. Jika ada gerakan baru, gerakan yang lama masih tetap akan dipentaskan dan tidak akan dilupakan. Itulah mengapa, jika ada acara dan Tari Soreng ditampilkan di sana, maka akan ditemukan bahwa penampilan Tari Soreng mungkin saja lebih dari sekali; dengan gerakan lama dan gerakan baru sama-sama ditarikan dengan indahnya.

Biarpun demikian, variasi ataupun gubahan pada Tari Soreng tidak berarti melupakan akar filosofis tarian tersebut. Pesan yang dibawakan melalui Tari Soreng tetaplah sama, yaitu mengenai narasi kehidupan di desa. Pertunjukan Tari Soreng diiringi dengan seperangkat gamelan dan alat musik truntung.

Paguyuban kesenian di Dusun Grintingan, Desa Banyuroto masih bergabung dengan paguyuban kesenian di Dusun Garon, di desa yang sama. Latihan tari tidak diadakan secara rutin, melainkan menyesuaikan apabila ada pentas atau lomba. Biasanya, latihan diadakan dua malam sebelum hari pentas. Akan tetapi, bila ada gerakan baru di Tari Soreng, latihan bisa menjadi lebih lama, yaitu kurang lebih lima hari.

Jumlah partisipan Tari Soreng yang ada kurang lebih delapan puluh orang, dari Dusun Garon dan Grintingan, tapi yang aktif latihan hanya belasan. Saat Tari Soreng ditampilkan, penari yang ada sekitar delapan sampai dua belas orang.

GARON1

Masyarakat Dusun Garon dan Grintingan melihat penampilan Tari Soreng – People from Garon and Grintingan watched Soreng Dance (16 Juli 2017)

Tari Soreng tidak hanya ditarikan oleh penari pria saja, tetapi penari perempuan juga dapat ikut menarikan tarian ini. Biasanya jika Tari Soreng ditarikan oleh perempuan, jumlah penari akan menjadi lebih banyak.

 

GARON2

Penari Perempuan Tari Soreng – Women Dancers performed Tari Soreng (16 Juli 2017)

Paguyuban Kesenian Garon-Grintingan ini pernah menyabet gelar juara dua se-kecamatan dengan Tari Soreng. Mereka juga sudah sering tampil di berbagai acara, acara desa-desa lain, dan tampil di Prambanan dan Borobudur.

 

English ver.

Tari Soreng (Soreng Dance) is not something entirely new in Grintingan, a dusun within Banyuroto. Yet, it is safe to say that the art indeed had just begun to show its development and grandeur in the last two years. Before that, Soreng dance quite lacked in the terms of variations. The variations are crucially needed, in order to enchant the audience. Hence, changes took place within the dance, in which variations of the dance moves are created. If there is a new dance move, the old one would still be danced and would not be forgotten. That is the reason why if there is a Soreng dance performance, it would be possible for it to be danced more than once; in which both the old and the new dance moves would be enacted beautifully.

Even though there are additions and changes, the philosophical narrative lying underneath the dance stays the same. The message carried out by Soreng dance is that of life within village. Soreng Dance performance is accompanied by a set of gamelan (Javanese traditional music instruments) and truntung instruments.

The art community in Dusun Grintingan merges with the one in Dusun Garon. The dance practices are not conducted regularly; instead they are accomodating the needs should there be upcoming performances or competitions. Usually, the practices are held two nights before the day they are performing. But, if there are new dance moves being incorporated into the dance, the practices would take longer time, which is around five days.

There are approximately eighty people in the Soreng dance community of Dusun Garon and Grintingan. Out of eighty people, there are more or less twenty people who are really active. When Soreng dance is performed, eight to twelve dancers would be needed.

The dance is not only danced by male dancers, but female dancers can also perform the dance. Usually, if Soreng Dance is danced by women, the number of dancer will increase.

Garon-Grintingan art community had won a competition; it grabbed the second best place within kecamatan with their Soreng Dance. It also had performed at various events, events of other villages, and performed in Prambanan and Borobudur.

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun)

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)

Nama
Alamat e-mail
Komentar
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 

Peta Desa

Komentar Terkini

Info Media Sosial

Facebook

Lokasi Kantor Desa

tampilkan dalam peta lebih besar

Statistik Pengunjung

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung