Kelompok jathilan di Dusun Banyuroto sudah ada sejak lama, dengan nama tritari yang digunakan dari dahulu. Nama budi tani adalah nama yang ditambahkan oleh generasi sekarang, yang aktif sejak tahun 2000, bersama dengan kreasi-kreasi baru yang ditambahkan. Jathilan di Dusun Banyuroto ini didirikan oleh empat orang.

Di jathilan ini, tidak digunakan jaran kepang. Selain itu, yang membedakannya dari jathilan-jathilan lain adalah blendrong-nya yang banyak dan lengkap. Blendrong adalah tari-tarian yang menyimbolkan aktivitas sehari-hari, misalnya seperti memakai pakaian.

Selain blendrong, tari-tarian yang ada di jathilan Tritari Budi Tani ada mayar sewu yang digunakan sebagai awalan dan merupakan tarian kegembiraan; puspo warno yang merupakan tarian lembut dan menceritakan prajurit pewayangan yang baik; dan cangklek yang gerakannya adalah memasang gelang di tangan.

Narasi dan filosofi yang digunakan untuk jathilan di Dusun Banyuroto ini banyak menggunakan cerita pewayangan, yaitu melibatkan tokoh-tokoh Gatutkaca, Janaka, Rahwana, dan lain-lain.

Dulu ada pemain jathilan perempuan, tapi sekarang pemainnya lelaki semua. Anggota kelompok kesenian jathilan ini ada 60 hingga 70 orang, sementara setiap kali tampil yang keluar adalah 40 orang. Termasuk di dalam tokoh-tokoh ini ada 6 monyet, 6 buto, 2 Rahwana, dan 2 Bugis.

Musik yang digunakan adalah musik gamelan klasik dengan gendhing Jawa.

Jathilan secara rutin tampil setiap Lebaran. Waktu tampil lainnya adalah di bulan Suro dan Rajab.

Terdapat sesaji di jathilan Tritari Budi Tani, yang isinya antara lain pisang, kelapa, dan jajanan pasar. Sesaji ini digunakan untuk memenuhi permintaan roh atau makhluk baik yang telah ada dalam tubuh pemain dan bisa menjadi-jadi apabila menari jathilan.

 

English ver.

The art community of jathilan in Dusun Banyuroto has been around for some time, with the name tritari has been used since the beginning. The name of budi tani was added later by the younger generation, which has been active since 2000, along with the addition of new creations of the art. This jathilan in Dusun Banyuroto was founded by four people.

In this jathilan, horse-shaped cane works are not used. Furthermore, what set it apart from other forms of jathilan is its blendrong, which is complete. Blendrong is a dance form which symbolizes daily activities, such as wearing clothes.

Besides blendrong, other dance moves in jathilan Tritari Budi Tani are mayar sewu which is used as an opening and symbolizes happiness; puspo warno which is a soft dance and tells the story of kind soldiers from wayang; and cangklek whose moves including wearing bracelets on hands.

Many narration and philosophy which are used for jathilan in Dusun Banyuroto are taken from the wayang stories and including characters such as Gatutkaca, Janaka, Rahwana, and others.

There used to be female dancers of jathilan, but now there are only male ones. There are 60 members of the jathilan art community, while in each performance, around 40 people are dancing. Among the characters, there are 6 monkey characters, 6 buto characters, 2 Rahwana characters, and 2 Bugis characters.

Jathilan in Dusun Banyuroto used classic gamelan music with Javanese gendhing.

Regularly, jathilan performs each Eid Mubarak. Other times for performing are during months of Suro and Rajab.

There are sesaji being presented in jathilan Tritari Budi Tani’s performance, in which the ingredients including bananas, coconuts, and traditional snacks. These sesaji are required for the ghostly being who has inhabited one of the dancers’ body.